Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Tuesday, 22 September 2009

Menggenjot Penggunaan Bahasa Bali Mulai dari Lingkungan Keluarga

Senin, 03-December-2007, 14:27:35



SEKITAR 100 orang berdiskusi sengit seputar nasib bahasa Bali saat ini. Mereka terlibat dalam Pesamuhan Bahasa Bali 2007 yang digagas Badan Pembina Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali di Hotel Dewi Karya Denpasar belum lama ini. Berikut catatan penting dari musyawarah yang dihadiri pakar bahasa Bali, budayawan, akademisi, toko masyarakat, sekaa teruna, Majelis Desa Pakraman, dan Widyasabha Dharmagita se-Bali itu.

Menurut Sekretaris Badan Pembina Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali Drs. I Wayan Suardiana, M.Hum, pembinaan dan pengembangan bahasa Bali dimaksudkan untuk mendongkrak mutu dan jumlah pemakai bahasa daerah ini. Ini sesuai dengan fungsi bahasa Bali sebagai alat ekspresi,” katanya.

Pihaknya menyambut gembira penguatan maksud tersebut di kalangan media massa di Bali, terutama adanya sajian Bali Orti di Bali Post Minggu. ”Peran media massa amat besar untuk membantu membnagun kesadaran tersebut di kalangan masyarakat,” ujarnya.

Sementara pemerhati bahasa Bali, Pande Wayan Renawati, S.H., M.Si., menilai penguatan citra bahasa Bali dalam pergaulan masyarakat di daerahnya amat penting. ”Ini penting agar bahasa Bali tetap ajeg di kalangan masyarakatnya sendiri.

Jangan sampai masyarakat Bali lebih tergoda dengan bahasa lain, tapi melupakan bahasa warisan leluhurnya,” alumnus Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar ini.
Menurutnya, upaya membangun minat anak muda zaman sekarang agar menyintai bahasa Bali harus dilakukan secara kreatif di sekolah maupun di rumah.

Trik khusus diperlukan untuk menjadikan bahasa Bali sebagai alat komunikasi yang menarik di mata anak-anak. ”mereka bisa diajak mendengarkan cerita rakyat aaatau satwa Bali. Kaset lagu Bali dapat menjadi sarana yang bagus untuk membuat anak menyenangi bahasa daerahnya. Cara lainnya, anak dapat dilibatkan dalam permainan yang menggunakan bahasa Bali sebagai alat komunikasi,” jelas staf pengajar Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini.

Dari Keluarga
Bahasa Bali mulai mendapatkan perhatian di beberapa sekolah Taman Kanak-kanak. Namun pengenalan Bahasa Bali hanya sebatas melalui lagu atau permainan. ”Anak-anak banyak yang belum terbiasa menggunakan Bahasa Bali.

Dalam percakapan sehari-hari mereka lebih terbiasa memakai bahasa Indonesia” ujar Ida Ayu Ketut Suastini, kepala sekolah TK Banjar Lokasari Tainsiat, Denpasar.
Menurut Dayu kurangnya pemahaman siswa akan Bahasa Bali salah satunya karena kurangnya pemakaian bahasa Bali di lingkungan keluarga. Dayu menambahkan sebaiknya dalam lingkungan keluarga, orangtua mulai mengenalkan tentang bahasa Bali caranya dengan mengajak komunikasi.

”Siswa lebih banyak mendapatkan Bahasa Indonesia sebagai pengantar pembelajaran. Jadi dengan membiasakan anak berbahasa Bali di rumah, orangtua tak perlu kuawatir anaknya tak bisa berbahasa Indonesia,” tambahnya.

Dayu menilai saat ini banyak orangtua yang salah mengartikan arti modern. Mereka menganggap dengan tidak menggunakan Bahasa Bali dalam komunikasi sehari-hari terkesan ketinggalan jaman. Padahal Bahasa Bali adalah Bahasa Ibu yang perlu mereka lestarikan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan cinta pada budaya.

Dayu menmabahkan, dalam kurikulum TK penggunaan Bahasa Bali memang tak ada. Meski demikian, sekolah memiliki inisiatif memberlakukan berbahasa Bali pada hari-hari tertentu. ”Kami gunakan hari berbahasa Bali pada hari Sabtu,” ujarnya. Pada hari itu semua anak diajak berkomunikasi dengan Bahasa Bali.

Bahkan anak yang tak pernah mendengarkan kata-kata dalam bahasa Bali pun mampu belajar lewat mendengarkan. Hal tersebut berjalan efektif, kini meski terkadang bahasa yang dipakai campur-aduk antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Bali, anak didiknya sudah mampu menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.

Lain halnya di sekolah yang menggunakan kurikulum nasional plus. Karena lebih banyak mengadobsi bahasa asing dalam proses pembelajarannya, Bahasa Bali kurang bisa dikenalkan secara mendalam. ”Kami hanya bisa mengenalkan lewat lagu dan permainan,” ujar Alit Susanti, kepala sekolah TK Taman Rama Denpasar.

Penggunaan Bahasa Bali lebih minim karena banyaknya bahasa asing yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Alit mengharapkan lingkungan keluarga lebih insentif memberikan pengenalan tentang Bahasa Bali, karena di sekolah siswa lebih cenderung menggunakan Bahasa Indonesia.

”Siswa di sekolah kami berasal dari berbagai daerah, jika mereka memakai bahasa Bali takutnya mereka tak bisa berkomunikasi dengan siswa lain yang berasal dari luar daerah. Untuk itu sebaiknya antara Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia diberikan secara seimbang,” ujarnya. —sam,lik


Kursus Bahasa Bali Sepi Peminat

KURSUS Bahasa Bali tak bisa ditemukan dengan mudah. Jika dibandingkan kursus bahasa asing yang makin menjamur di tiap sudut kota Denpasar, keberadaan tempat kursus Bahasa Bali tergolong langka.
Meski langka, peserta kursus Bahasa Bali tak banyak seperti peserta di tempat-tempat kursus lain yang berbau bahasa asing.

Nyoman Djendra adalah salah seorang yang aktif mengembangkan Bahasa Bali lewat salah satu tempat kursus Bahasa Bali yang ia beri nama Dwipayana. Meski sudah setahun ia mendirikan tempat kursus tersebut, peminatnya masih minim.

”Saat ini untuk kelas eksklusif atau dewasa kami hanya menerima peserta lima orang. Sedang SD 10 orang,” ujar alumnus Fakultas Sastra Indonesia, Universitas Udayana 1985 ini.

Padahal untuk memancing minat peserta, tak hanya materi kursus Bahasa Bali yang ia berikan, namun ia juga menyelipkan penggunaan Bahasa Inggris serta pengetahuan tentang motivasi dan konsultasi belajar dalam proses pembelajarannya.

Tak hanya itu, ia hanya membebankan biaya kursus tiap peserta sebesar Rp 75 ribu per bulan. ”Materi Bahasa Bali diberikan sebanyak lima kali pertemuan, pengetahuan tentang Bahasa Inggris sebanyak dua kali sedangkan Motivasi belajar satu kali pertemuan,” tambahnya.

Daya tarik yang ia berikan ternyata masih belum mampu meningkatkan jumlah peserta. Djendra mengaku, meski jumlah peserta masih sedikit, banyak orangtua dan siswa yang menghubungi tempat kurususnya meski hanya sekadar meminta informasi.

”Bahkan ada siswa SD yang merengek meminta kursus, tapi karena orangtuanya sibuk akhirnya anak itu urung kursus di tempat kami,” ujarnya.

Ia menggunakan sistem level dasar hingga level akhir dalam pembelajarannya. Untuk level dasar materi yang diberikan meliputi pengenalan kosa kata Bahasa Bali baik untuk pergaulan atau sor singgih basa.

Tak lupa dalam pembelajarannya ia sisipkan Bahasa Inggris. Peserta juga diajak mengenal dan belajar aksara Bali, pengangge suara miwah angka. ”Peserta juga kami ajar tentang macecimpedan, sasenggakan, masatua dan belajar gending rare untuk peserta SD,” jelas suami Jumadiah ini.

Untuk dewasa, materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan peserta. ”Materi untuk dewasa hampir sama dengan SD. Hal ini dilakukan karena masih banyak peserta dewasa yang belum mampu menulis aksara Bali,” jelasnya.

Djendra mulai membuka tempat kursus Bahasa Bali sejak setahun lalu. Awalnya, menurut ayah satu anak ini, tempat kursus ia pusatkan di rumahnya di Jalan Ida Bagus Oka Gang Clurit 2 Denpasar.

Peserta kursus pun sebagian besar tetangga dekat tempat tinggalnya. Sejak 18 Agustus 2007 ia pindahkan tempat kursusnya di tempat yang lebih strategis, yakni di kawasan Jalan Serma Made Pil Denpasar. Tujuannya agar masyarakat mengetahui keberadaan tempat kursusnya. —lik
sumber: http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=3561

No comments:

Post a Comment

Post a Comment